Searching...

29 Agustus 2012

Arti Cinta Menurut Pandangan Agama

Setiap mahkluk di dunia ini apapun itu, tidak pernah terlepas dari yang namanya cinta. Rasa sayang yang dimiliki oleh seseorang pastilah memiliki penjelasan yang benar, begitu pula dengan dengan rasa memiliki, sikap memiliki dan menghargai semuanya merupakan bawaan dari cinta. Namun, apakah kita telah mengetahui perasaan kita yang sebenarnya kepada seseorang yang kita katakan sebagai cinta? kita berkata cinta kepada orang tua kita, kita berkata cinta kepada teman kita, kita berkata cinta kepada pacar kita, atau mungkin kita berkata cinta kepada harta benda yang kita miliki. Kebanyakan orang pasti mengatakan cinta untuk hal-hal tersebut.

Hanya saja sudahkah Anda mengerti tentang arti cinta yang kita berikan, samakah cinta yang kita berikan kepada orang tersayang dengan cinta kita kepada harta benda atau yang lainnya?

Bagaimanakah arti cinta menurut pandangan agama?dan dari mana datangnya cinta tersebut? Berikut filosofinya:

Salah satu dari sifat-Zat Tuhan adalah cinta. Cinta yang juga bisa berarti menyukai sesuatu merupakan sifat yang juga selain dimiliki selain Tuhan. Secara kasar kita dapat membagi cinta menjadi dua bagian pokok: cinta karena kebutuhan, dan cinta karena yang dicintai adalah kebaikan dan keindahan. Maksud dari bagian pertama (cinta karena kebutuhan) ialah kecintaan yang didasarkan atas imbal balik. Yakni suatu kecintaan yang dibangun di atas pamrih, pribadi dan demi mengejar sesuatu yang dapat mendatangkan keuntungan dan kemuliaan yang diinginkan.

Bagian pertama ini (cinta karena kebutuhan) juga memiliki dua bagian pula yaitu sementara dan abadi. Kecintaan kepada anak, istri, teman dan harta benda lainnya merupakan cinta yang bersifat pamrih dan sementara. Pamrih disini tidak harus berupah materi. Kelezatan dan kebahagian dari cinta, dapat dijadikan dalil dalam masalah ini. Boleh tidaknya dan baik tidaknya atau dimana boleh dan baik dan dimana boleh dan tidak baik, merupakan pembahasan yang berada di luar jangkaun kami. Dalam filsafat yang lebih luas, dalam etika atau syariat, masalah-masalah itu lebih dirinci lagi.

Yang menjadi permasalahan kita sekarang adalah membahas bentuk dan macam-macam cinta secara filosofis.

Kecintaan yang bersifat pamrih lainnya adalah yang bersifat abadi. Yaitu kecintaan terhadap kesempurnaan. Kesempurnaan yang timbul haruslah bersumber dari kebenaran. Mencintai kebenaran yang filosofis atau agamis merupakan penyempurnaan jiwa seseorang, sehingga kita dapat mengatakan bahwa derajat kesempurnaan jiwa seseorang tergantung kepada sejauhmana dia mencintai kebenaran. Yang mana jauh dekatnya cinta kepada kebenaran itu tergantung pula pada jauh dekatnya (kesungguhan) usaha yang dilakukan. Oleh karena kecintaan terhadap kebenaran merupakan penyempurnaan jiwa, dan karena jiwa merupakan suatu wujud yang bersifat abadi. Misalnya kecintaan kita kepada Allah, Nabi, Agama, al-Qur`an, dan lain-lain. Pamrih disini bisa merupakan keinginan terhadap balasan syurga atau dijauhkan dari siksaan neraka. Sedang pamrih yang berupa keberhasilan duniawi, seperti mengejar kekuatan-kekuatan batin yang dapat mempengaruhi orang lain, kekebalan, kesakitan, dan lain-lain, tidak dapat dimasukkan ke dalam golongan pamrih yang bersifat abadi ini. Dan bahkan yang lebih dekat kepada yang bersifat sementara.

Cinta kepada keindahan atau kebaikan pun dapat kita bagi menjadi dua: semu (tidak langgeng) dan hakiki. Keindahan atau kebaikan semu, bermacam ragamnya. Salah satu dari yang terendah adalah keindahan yang bersifat khayali dan tidak hakiki. Keindahan hayali ini tidak jarang dapat dibantu dan didorong dengan benda-benda memabukkan semacam minuman keras, morfin, dan lain-lain. Keindahan semu lainnya ialah keindahan yang ada di alam ini (dunia). Agama menyebutkan dengan beberapa sebutan. Di antaranya adalah hiasan (zinah) dan permainan. Hiasan adalah pengindah sesuatu agar sesuatu itu  menjadi perhatian. Jadi dia sendiri bukanlah sesuatu yang dijadikan perhatian dan sasaran. Sama halnya dengan ketika Anda berdandan rapi. Yang  Anda inginkan adalah supaya orang lain memperhatikan atau menghormati Anda, bukan supaya orang lain menghargai pakaian Anda. Begitu pula dengan permainan. Ketika kita melihat anak-anak bermain, kita akan melihat bahwa mereka kadang-kadang menjual pelepah pisang sebagai daging dan membelinya dengan uang dari daun. Harga dan bahan, semuanya bersifat khayali.

Keindahan anak-anak ini dapat digolongkan ke dalam golongan pertama. Namun, keindahan dunia yang diibaratkan dengan main-main ini tergolong yang ke dua dalam contoh ini. Walaupun secara hakkikatnya, dihadapan Tuhan adalah sama. Keindahan yang ada di dunia ini adalah keindahan yang kita jadikan sendiri. Kita timang uangnya seperti anak-anak menimang daun, kita goreng dagingnya seperti anak-anak menggoreng pelepah pisang, dan kita bahagia karenanya sebagaimana mereka (anak-anak). Cinta terhadap keindahan-keindahan semacam ini sebenarnya sulit dilepaskan dari pamrih. Yakni suatu kelezatan yang diperoleh oleh jiwa pecintanya. Namun, kami perlu mempoinkannya sebagai poin tersendiri karena mungkin ada orang yang berkata bahwa mereka adalah pencinta dunia yang tanpa pamrih. Misalnya orang yang mencintai anaknya karena anaknya. Bukan karena mengejar kepuasan jiwanya.

Sedang keindahan hakiki adalah keindahan yang sebenarnya dan tanpa batas. Satu-satunya wujud yang tanpa batas adalah Allah swt. Allah juga bisa disebut sebagai keindahan. Karena kesempurnaan itu indah, dan Allah adalah sumber dari seluruh kesempurnaan terbatas (lihat makna kesempurnaan pada cinta kesempurnaan di atas). Cinta keindahan pada keindahan hakiki ini dapat dipisahkan dari pamrih apapun selain ia sendiri. oleh karenanya keindahan nyata, yang terbatas, yang bersumber dari diri-Nya, juga dicintai. Itu semua karena-Nya belaka. Orang yang sampai kepada tingkatan cinta pada tingkatan cinta tanpa pamrih ini, yakni kecintaan pada keindahan hakiki ini, tidak melihat dan merasakan keindahan dari semua yang ditatapnya, seperti keindahan alam, agama, nabi, al-qur`an, imam, dan lain-lain, kecuali ia menatap keindahan-Nya. Imam husain (as) pernah berkata “aku tidak melihat apapun kecuali ku lihat Dia sebelumnya, di dalamnya dan setelahnya.” Dan karena wajah yang dilihatnya maka semakin terpaut cintanya pada-Nya dengannya (wajah), dan ia melihat keindahan itu semakin dekat dengan-Nya. Dan harus diingat bahwa cinta ini tanpa pamrih atau apapun kecuali keindahan-Nya. Mungkin ini yang dimaksudkan para Imam (as) sebagai hamba yang bebas pencinta dan bersyukur. Bebas, karena ibadahnya didasarkan pada kecintaan pada-Nya, karena-Nya, dan pensyukur karena ibadahnya di atas didasarkan pada rasa syukur semata. Memang, mereka akan merasakan kelezatan dan kenikmatan batin. Namun, mereka mencintainya bukan karena kelezatan itu.

Secara akal (agama dan filosofis, mencintai keindahan merupakan merupakan suatu kemestian). Sebab membenci dan mendiamkannya tidak akan lepas dari sebab kebodohan. Begitu pula mencintai keindahan yang tidak hakiki, yang tidak dikembalikan kepada keindahan hakiki. Perlu ditambahkan di sini bahwa keindahan hakiki dapat diartikan sebagai keindahan mandiri. Yakni keindahan yang dari dirinya sendiri, atau keindahan yang tidak bersebab (Allah). Dengan ini maka bisa dikatakan bahwa, tidak mencintai keindahan mandiri dan tidak mencintai keindahan yang tidak mandiri adalah suatu kebodohan yang nyata dan keluar dari hikmah dan kebijakan.

Allah sebagai Maha Hakim dan bijaksana lebih utama untuk mencintai keidahan dan kesempurnaan. Akan tetapi, bagaimana bentuk (majazi), cinta Allah itu? Apakah cinta-Nya adalah hakikat zat-Nya, yakni tergolong sifat-zat, atau tidak, yakni tergolong sifat perbuatan? Dengan uraian yang telah berlalu, Anda dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Di atas telah kami katakan bahwa Allah adalah hakikat keindahan. Oleh karenanya, maka Ia mestilah mencintai diri-Nya dan karena Ia mencitai diri-Nya, maka secara tidak langsung Ia mencintai pancaran sinar-Nya dan perbuatan-Nya, yakni seluruh makhluk-makhluk-Nya. Karena Ia mempunyai kesempurnaan makhluk-makhluk-Nya secara lebih sempurna. Pendeknya, Ia mencintai diri-Nya dan mencintai makhluk-Nya dari sisi kesempurnannya yang ada pada dirinya sendiri. Oleh karenanya Ia adalah cinta-Nya dan cinta-Nya adalah diri-Nya.  Tidak ada beda antara kedua kata tersebut. Perbedannya hanyalah dalam pahaman kita sebagaimana maklum.
Akan tetapi, kadang kala kita menatap cinta-Nya terhadap makhluk-Nya yang nampak m

andiri. Di sini, cinta-Nya bukanlah diri-Nya. Karena pandangan mandiri terhadap makhluk itu telah menyebabkan penghubungan antara diri-Nya dan makhluk-Nya. Yakni menjadi cinta yang timbul dari penghubungan itu. Oleh karenanya maka kita menyatakan bahwa cinta-Nya. Ini jelas merupakan sifat yang kita buat sendiri dalam akal yang dikenal dengan Sifat-Perbuatan. Sifat ini tidak mempunyai eksistensi kecuali dalam akal. Dan satu-satunya cara untuk mengeksiskan sifat tersebut hanyalah dengan mengembalikannya pada Sifat-Zat. Yakni kepada cinta sifat di atas. Dan kalau dikembalikan kepada cinta-Nya, maka kita telah mengembalikan pada diri-Nya sendiri. Maka Dialah hakikat cinta itu.
semoga arti cinta yang sesungguhnya ini mampu menghilhami jiwa Anda.

0 komentar:

Poskan Komentar