Searching...

12 September 2012

Membuktikan Keberadaan Tuhan dengan Akal

Artikel kali ini akan sedikit serius dan butuh wawasan luas untuk dapat memahami maksudnya, kami harapkan para pembaca sekalian dapat mengerti dengan apa yang akan kami nyatakan dalam artikel yang berjudul Membuktikan Keberadaan Tuhan dengan Akal. Selama ini sebagai umat muslim, tentu saja al qur an selalu menjadi sandaran kita dalam mengambil setiap keputusan dan selalu mencari hadis yang sebaiknya dijadikan pedoman atau contoh, namun kali ini, kami akan mengajak Anda memahami penggunaan akal dalam menjalani hidup dalam islam.

Hal ini mungkin akan sedikit mengejutkan para pembaca sekalian. Sebab, barangkali selama ini Anda menganggap bahwa al-Qur`an harus dijadikan satu-satunya sandaran bagi segenap masalah-masalah keislaman. Kami akan memaparkan beberapa dalil yang akan membuktikan bahwa dalam masalah Ushul, al-Qur`an dan hadits tidak dapat cukup dijadikan sandaran sebelum kita menggunakan dalil akal. Dalil-dalil yang kami maksud adalah sebagai berikut:


Pertama, mengimani ada dan Esanya Allah dari al-Qur`an, menyalahi tertib wujud. Sebab wujud dan Esa Allah ada, sebelum al-Qur`an ada. Maka iman semacam itu tidak dapat dikatakan cukup. Sebab seseorang yang mempunyai iman semacam itu harus mengimani al-Qur`an terlebih dahulu. Sedang mengimani al-Qur`an sebelum mengimani pengirimnya adalah suatu hal yang keliru.

tuhan asal tuhan, membuktikan adanya tuhan dengan AkalBagaimana mungkin, seseorang dapat mengimani kata-kata Tuhan padahal ia belum mempercayai ada dan Esa-Nya? Sungguh mengherankan kalau ada orang yang meyakini bahwa ia seorang muslim sejati sementara ia menjadi pengajar dan penganjur supaya kaum muslimin kembali kepada al-Qur`an dan hadits dan melarang mereka untuk kembali kepada akal. Dan yang lebih mengherankan lagi adalah kadang-kadang mereka itu dari kalangan ulama, sarjana, doktor, profesor, ahli teologi atau dari kalangan aktivis atau cendekiawan muslim yang biasanya masing-masing mereka sangat meyakini kebenaran khittah-nya ¬(jalannya atau garisnya).

Alasan yang biasa terlontar dari mereka adalah karena akal kita terbatas dan tidak dapat menjangkau kebenaran hakiki. Lho....! kalau begitu apakah islam ini bukanlah suatu kebenaran hakiki? Sebab kita mengimani Islam ini karena akal kita yang berkata bahwa agama Islam adalah satu-satunya agama yang paling benar dan tidak ada salahnya, tidak ada kontradiksinya.. dan lain-lain.

Adalah suatu hal yang sangat keliru kalau seseorang mengimani kebenaran Islam karena Islam berkata bahwa Islamlah yang paling benar. Sebab agama-agama lain pun berkata demikian, dan kalau demikian halnya, lalu dengan apa kita menentukan bahwa agama Islam (al-Qur`an dan hadits) adalah agama yang benar? Bisakah kita membenarkan al-Qur`an yang mengatakan bahwa Tuhan itu ada dan Esa, hanya karena al-Qur`an berkata bahwa ia adalah kitab yang benar? Dan kalau Anda berkata bisa, mengapa Anda tidak mengatakan bahwa Tuhan itu tiga sebagaimana dikatakan dalam kitab lain yang juga mengaku benar?

Kedua, Membuktikan ada dan Esanya Tuhan (Allah) dengan al-Qur`an sama halnya dengan tidak membuktikan apa-apa. Sebab ketika Anda berargumen dengan al-Qur`an bahwa itu ada dan Esa, sementara al-Qur`an mengaku sebagai kitab yang diturunkan dari Tuhan yang Esa, berarti Anda berargumen dengan sesuatu yang masih perlu argumen. Yaitu argumen yang dapat membuktikan bahwa al-Qur`an dari Tuhan Yang Esa (Allah).

Anda tentu tidak akan dapat membuktikan bahwa al-Qur`an dari Tuhan Yang Esa. Sebab Anda sendiri belum dapat membuktikan keberadaan dan keEsaan-Nya sedikit pun. Nah, kalau Anda belum membuktikan keberadaan-Nya, bagaimana Anda dapat membuktikan bahwa al-Qur`an dari-Nya. Dia saja belum terbukti, apalagi firman-firman-Nya.

Ketiga, mencari ada dan Esa Tuhan dengan al-Qur`an melazimkan seseorang mencari yang sudah ada (tahshilul-hasil). Hal mana yang demikian ini adalah tidak benar. Ibarat Anda ke sana ke mari mencari pena. Sementara yang Anda cari ada di tangan Anda. Untuk lebih jelasnya kami paparkan sebagai berikut:
Kalau Anda mencari untuk mengimani bahwa Tuhan itu ada dan Esa dari al-Qur`an itu berarti Anda harus meyakini kebenaran al-Qur`an terlebih dahulu. Sebab ketika Anda menjadikan al-Qur`an sebagai argumen Anda, berarti Anda harus mempercayai atau mengimani al-Qur`an sebagai tolak ukur suatu kebenaran terlebih dahulu. Nah! Kalau Anda mengimani al-Qur`an, maka Anda harus mengimaninya sebagai suatu kitab yang datang dari Tuhan yang Esa (Allah). Sebab al-Qur`an sendiri mengatakan hal itu. Kalau demikian halnya, berarti Anda telah mengimani Tuhan Yang Esa sebelum Anda mengimani-Nya.

Hal yang demikian itu karena ketika Anda berargumen tentang ada dan Esa-Nya berarti Anda belum mengenal dan mengimani-Nya. Sementara argumen Anda al-Qur`an yang harus Anda yakini sebagai kitab yang datang dari-Nya. Dengan demikian berarti Anda telah beriman kepada-Nya sebelum Anda beriman. Dan dengan demikian berarti Anda mencari yang sudah ada. Tapi apa dalilnya Anda mempercayai al-Qur`an? Begitu pula, berarti Anda telah mendahulukan sesuatu dari dirinya sendiri. Yakni mendahulukan keimanan dari keimanan. Padahal yang demikian ini adalah suatu kemustahilan. Sebab, Sesuatu itu adalah dirinya sendiri. Bagaimana mungkin sesuatu dapat mendahului dirinya sendiri.

Keempat, mencari ada dan Esa-Nya Tuhan dengan  al-Qur`an berarti melazimkan seseorang menolak keimanannya sendiri. Sebab ketika Anda berargumen dengan al-Qur`an  berarti Anda harus yakin terhadap kebenarannya, termasuk dari siapa datangnya. Dengan demikian berarti Anda telah beriman kepada-Nya. Sementara, ketika Anda mau berargumen, berarti mau mengenali-Nya, sebab Anda belum mengenal-Nya. Dan justru untuk itu Anda berargumen. Ini berarti, Anda tidak (Belum) beriman setelah Anda beriman, alias Anda menolak sendiri keimanan Anda terhadap-Nya.

Kelima, dalam keadaan apapun al-Qur`an kurang tepat (tidak cukup) untuk dijadikan suatu argumen dalam menguatkan masalah-masalah keimanan sebelum didukung akal. al-Qur`an dan hadits adalah sebagai pengajar dan bukan pendogma yang mesti kita yakini karena orang terdahulu kita juga meyakininya.

Keenam, katakanlah bahwa akal itu terbatas, dan karena keterbatasannya tidak dapat mengenal Allah. Tapi, bukankah al-Qur`an juga terbatas? Satu-satunya wujud yang tidak terbatas hanyalah Allah, dan selain-Nya, termasuk al-Qur`an, adalah terbatas. Sebab selain-Nya adalah makhluk-Nya.

Kalau hanya karena keterbatasan sesuatu dapat menyebabkan sesuatu tersebut tidak dapat mengenal Allah, maka al-Qur`an pun tidak dapat mengenali-Nya. Mungkin Anda bertanya, bukankah al-Qur`an itu firman-Nya? Benar, al-Qur`an memang firman-Nya. Tetapi apakah firman-Nya adalah Dia? Kalau Anda menjawab bahwa firman-Nya adalah Dia, maka jelas sekali bahwa Anda telah jatuh dalam kemusyrikan, pertanyaan kami berikutnya, apakah selain-Nya dapat menjangkau-Nya? Kalau jawaban Anda “bisa”, berarti Anda telah membatasi-Nya. Sebab yang dijangkau yang terbatas adalah yang terbatas pula, dan mustahil yang terbatas dapat menjangkau yang tidak terbatas. Tetapi jika jawaban Anda “tidak bisa”, itu berarti al-Qur`an pun tidak dapat menjangkau-Nya.

Lagi pula al-Qur`an yang kia pahami tidak akan lepas dari pengaruh akal kita. Sebab ketika Anda menggunakan al-Qur`an sebagai dalil, berarti Anda harus memahaminya terlebih dahulu. Dan dalam memahami, tentu saja Anda haus menggunakan akal. Dengan demikian berarti al-Qur`an yang Anda jadikan dalil adalah al-Qur`an yang mengikuti keterbatasan akal Anda. Oleh karena itu, kalau akal tidak dapat mengenal Allah karena keterbatasannya, maka al-Qur`an yang Anda pakai pun tidak akan mengantar Anda untuk dapat mengenal-Nya.

Sebenarnya penyebab dari perbedaan pendapat di antara sesama pengikut al-Qur`an adalah adanya ketidakseragaman akal mereka. al-Qur`an sebagai kitab suci, tentu suci dari kontradiksinya. Tapi nyatanya pengikut al-Qur`an sendiri saling menyesatkan, yang menandakan adanya kontradiksi di antara mereka. Jadi secara hakiki mereka mengikuti al-Qur`an yang mereka pahami. Dan al-Qur`an yang mereka pahami belum tentu sesuai dengan al-Qur`an yang sebenarnya. Oleh karena itu pula maka seandainya al-Qur`an tidak terbatas pun belum tentu dapat mengantar Anda. Dan kalau Anda meyakini bahwa akal itu terbatas, maka akal tidak akan dapat memahami al-Qur`an yang menurut Anda tidak terbatas.

Semoga saja dari artikel tentang Membuktikan keberadaan Tuhan dengan akal ini dapat menyadarkan Anda yang sibuk mencari Tuhan dalam kitab atau pun literatur-literatur islam, Tuhan telah memberikan kita akal yang tidak diberikan oleh mahluk lainnya. Sesungguhnya Tuhan selalu ada bagi hamba-hambanya yang berakal.

2 komentar:

  1. Dalil a'kal nya gak di papar kan, atau di minta untuk mencari sendiri.

    BalasHapus