Searching...

03 Maret 2013

Kisah Ashabul kahfi


Kisah Ashabul kahfi ialah kisah yang telah terjadi sekitar ratusan tahun silam. Namun, kisah ini masih terus diceritakan kepada anak cucu layaknya sebuah warisan. Ashabul kahfi menceritakan tujuh orang pemudah dan seekor anjing yang ditidurkan oleh Allah swt selama 309 tahun. Kisah ashabul kahfi dapat kita temui dalam al-Quran surat al-Kahfi.

Kisah al-Kahfi banyak sekali diangkat dalam sebuah diskusi ataupun dapat dengan mudah kita dapatkan dalam sebuah media seperti sekarang ini. Namun, banyak yang di antara kisah Ashabul kahfi yang mereka terangkan tidak begitu terlihat latar belakang penyebab terjadinya peristiwa Ashabul Kahfi dan apa makna yang terkandung dalam ceriita tersebut. Hal yang paling sering ditanyakan oleh para pembaca ialah siapa ke tujuh orang yang termasuk dalam Ashabul Kahfi dan bagaimana kronologis mereka bisa bertemu. Dan dalam kesempatan islamnyamuslim.com akan memaparkan kisah ini kepada Anda sekalian. Kisah ini sangat panjang karena kami memaparkan ketujuh pemuda Ashabul Kahfi dan kejadian apa sesudahnya.. bacalah dengan perlahan.  Berikut kisahnya:

Syam adalah sebuah negeri yang termasuk dalam kekuasaan Romawi dan selalu diperintah oleh gubernur-gubernur  yang amat kejam. Salah satunya ialah Daqianus .

Daqianus ialah seorang penyembah berhala yang amat fanatik. Ia menyebar mata-mata ke seluruh negeri Syam untuk mengetahui orang-orang yang tidak menyembah berhala. Jika ia menemukan orang yang tidak menyembah berhala seperti yang Daqianus lakukan maka, ia mereka akan diseret ke hadapan Daqianus.

Mereka yang tidak menyembah berhala akan di seret ke alun-alun dan dipenggal di sana. Daqianus ialah manusia dengan hati bagai batu. Ia tertawa lebar menyaksikan jerit dan tangisan keluarga yang ditinggal dan disaksikan oleh seluruh penduduk Syam.

Setiap kali kaisar Romawi mengabarkan bahwa ia sangat senang dengan kepemimpinan Daqianus. Maka, Daqianus segera menggelar pesta besar.
ashabul kahfi

Suatu hari Daqianus, mengadakan pesta pernikahan besar. Ia mengundang seluruh rakyatnya untuk hadir tanpa terkecuali. Seluruh penduduk diperintahkan agar menghias rumahnya dengan lampu-lampu yang cantik. Para pengawal juga mengabarkan bahwa Gubernur agung Daqianus akan memberikan hadiah kepada para rakyatnya sebagai balasan telah bekerja keras. Sambil mengundang rakyat, prajurit juga mengancam aga tidak ada aktivitas lain selain menghadiri pesta pernikahan yang diadakan oleh Daqianus.

Hari yang dinanti nati itu pun tiba. Orang-orang berkumpul di sekitar istana yang dikelilingi sebuah parit yang sangat lebar. Mereka menari dan bernyanyi bersama. Sementara itu para menteri memadati istana. Tidak lama kemudian muncullah Daqianus dan mempelai wanitanya yang disambut meriah dengan sorak tepuk tangan. Daqianus kemudian duduk dengan khusuk di hadapan berhala yang berada di tengah-tengah istanah. Suasana menjadi senyap. Daqianus menyembah berhala itu lalu kemudian menyerahkan sesembahan lalu kembali bersujud pada patung yang terbuat dari emas itu. Ia kemudian duduk dalam singgasananya menyaksikan para menteri dan rakyatnya yang silih berganti menyembah berhala. Tiba-tiba Daqianus terlihat gugup dan gelisah.

“Menteri, mana Martius dan Nairawis? Mereka tidak datang? ”

“Tidak tahu tuan. Mungkin mereka sedang dalam perjalanan”

“Jika mereka tidak datang ke hadapanku sekarang maka aku akan menyiksa keduanya!”

Tak lama kemudian mereka berdua pun datang dan segera menghadap gubernur mengucapkan selamat dan memberkati pernikahannya.

“Maafkan hambah Tuan. Hambah terserang penyakit ringan, makanya hambah meminta Nairawis untuk mengobatiku” kata Martius

“Benar Tuan,” sambung Nairawis, “Lihat saja wajahnya yang masih pucat”

“Ya ya.. sudahlah, mari bergembira. Silahkan beri penghormatan kepada sesembahan kita” kata Daqianus.

Keduanya pun segera mendekati berhala dengan enggan dan menyerahkan perak sebagai sesembahan. Setelah itu mereka bergabung dengan pejabat yang lain.

“Lihat” sergah Daqianus kepada menterinya Kaludius, “Mereka berdua tidak menyembah berhala agung dengan khusuk dan mereka hanya memberikan seserahan yang tidak berguna . ini menandakan betapa rendahnya iman mereka”

“Maafkan mereka Tuan. Tuan tahu bahwa mereka masih belia. Jika mereka diberikan tugas kenegaraan, mereka pasti akan semakin dewasa dan bertindak hati-hati,” bela Kaludius

“Kau benar, tapi mereka adalah pejabat yang diperhitungkan dalam negeri ini. Sungguh disayangkan sikap mereka tidak seperti ayahnya. Aku akan menyelidiki mereka berdua.” Kata Daqianus tidak puas.

Semua pejabat larut dalam kesenangan hingga terbit fajar. Tanpa mereka sadari Martus dan Nairawis ternyata telah meninggalkan pesta lebih awal.

Martus dan Nairawis adalah dua orang dari ketujuh Ashabul Kahfi. Ketika Martus pulang ke rumahnya ia langsung berhadapan dengan ayahnya dengan wajah merah padam. Martus segera menghindar namun ayahnya menarik kerah bajunya dan memarahi anaknya atas kekecewaan terhadap perilakunya sewaktu berada di istana. Martus kemudian mengurung diri di kamarnya, menangis terseduh-seduh. Ia merasa disaingkan oleh seluruh penduduk negeri bahkan oleh ayahnya sendiri yang amat ia sayangi yang bernama Nasthas, salah seorang menteri dari Daqianus. Sedangkan, Nairawis ialah anak dari menteri keprcayaan Daqianus yaitu Kaludius.

Suatu hari Daqianus menaruh curiga terhadap Kaludius terkait upeti yang diminta kepada para pedagang negeri Syam. Ia pun segera memecat menteri kepercayaannya ini. Karena sakit hati, Kaludius melakukan pemberontakan. Ia mengumpulkan orang-orang yang sepihak dengannya dan menyerang Daqianus. Pasukan Daqianus dipimpin oleh Nasthas ayah dari Martas kemudian gugur dalam peperangan tersebut. Namun walaupun Narthas gugur kemenangan tetap berada di tangan Daqianus. Kaludius kemudian ditangkap dan dikirim ke Romawi untuk dipenggal.

Sementara itu, di rumah Maksalaminaya, seorang pengikut ajaran Nabi Isa as, yang sangat tidak suka dengan pemerintahan Daqianus tiba-tiba rumahnya diketuk. Masiklaminaya membukakan pintu. Ternyata yang ia temui ialah Martus, sahabat yang sepaham dengannya. Mereka berdialog dengan peristiwa yang baru saja menimpah negerinya . Mereka  berdua ialah orang-orang yang kehilangan orang yang mereka sayangi dari peristiwa tragis itu.

Tidak lama mereka bercakap-cakap. Pintu rumah kembali diketuk. Ternyata mereka adalah Nairawis dan Dainamus. Dainamus ialah seorang pedagang yang selalu tertindas dalam ketidak adilan oleh para pedagang besar orang-orang romawi. Mereka berempat terlibat dalam pembicaraan yang serius. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk lari dari kota yang penuh dengan kenistaan dan jauh dari Tuhan.

Mereka berempat inilah orang-orang dari Ashabul Kahfi.

Saat berada di rumah Maksalaminaya. Mereka mendengarkan kitab Injil yang diperoleh dari Hawari Narthusia. Injil ini kemudian dibacakan oleh Maksalaminaya. Pintu ditutup rapat agar tidak terdengar oleh mata-mata dari Daqianus.

Keesokan harinya terdengar kabar bahwa putra dari Daqianus tewas terbunuh di sungai. Pembunuhnya ialah Hawawi Narthusia seorang pengikut Nabi Isa as. Ia segera ditangkap dan disiksa di hadapan Daqianus. Ketika sedang mengawasi penyiksaan ini. Mata-mata Daqianus mengatakan kepada Daqianus, “Tuan, aku pernah melihat pemuda ini bersama Martus dan Nairawis beserta para pemuda lainnya. Aku kahwatir mereka bersekongkol menyiapkan rencana licik ini. Mereka menyebarkan bahwa tuan adalah orang sesat kerena menyembah berhala. Mereka juga mengatakan bahwa Anda kejam dan sewenang-wenang. Aku khawatir mereka berusaha menggulingkan Tuan dari jabatan terhormat ini”

Mendengar perkataan ini, Daqianus geram. “Pergi dan tangkap mereka sekarang juga, jangan kembali jika kau tidak berhasil menangkapnya! Ada berapa jumlah mereka? ”

“Mereka hanya berenam Tuan. Martus, Nairawis, Dainamus pedagang kecil yang miskin, Maksalaminaya, Qalus, dan satunya lagi ialah Kartumis, seorang pengawal istana yang telah lama menghilang dan menolak untuk mengabdi sebagai pengawal Tuan lagi.

“Besok kau harus bawah mereka ke hadapanku. Jika tidak, akan ku penggal ehermu”
Diantara para pejabat Daqianus, ada yang simpati terhadap nasib Martus dan Nairawis. Kabar ini pun tersampaikan ke telinga Martus. Mereka berenam sepakat untuk melarikan diri ke negeri terdekat ar-Raqim.

Dalam perjalanan mereka beristirahat dalam sebuah gubuk di perbatasan negeri. Ternyata dari dalam gubuk tersebut keluar seorang pria yang sebaya dengan mereka.

“Siapa kalian wahai saudaraku? Adakah yang bias ku bantu?” Tanya pria yang ditemani oleh anjing itu

“Kami lari untuk mencari tempat dimana kami bisa menyembah Allah dengan tenang”

“Apakah kalian berasal dari kota yang pemerintahannya kejam, Daqianus?”

“Benar sekali. Engkau sendiri siapa?”

“Aku sudah tahun tinggal di kota itu. Daqianus memerintahkan aku untuk menyembah berhala, namun aku enggan melaksanakannya. Ia memerintahkan prajuritnya untuk membunuhku dan merampas tanahku.  Aku tidak tahu harus tinggal dimana. Makanya, ku bangun gubuk kecil ini”

“Kalau begitu bergabunglah bersama kami…”

“Namaku Yamlikha” potong pria itu.

“Sebaiknya engkau dan anjingmu ikut kami, Yamlikha,” tawar Nairawis

“Kita akan pergi jauh.. jauh sekali sampai kita tiak dapat terlihat oleh mata Daqianus yang congkak itu” tambah Masaklaminaya.

Disinilah cikal bakal pelarian pemuda Ashabul Kahfi dalam perjalanan mereka kemudian beristirahat dalam sebuah gua. Dan tidak henti-hentinya meminta perlindungan kepada Allah swt.

Allah swt menjadikan gua ini tampak menyeramkan sehingga siapa pun yang medekati gua ini, akan terbesit ketakutan dan tak berani memasukinya. Ke tujuh pemuda dan seeokor anjing ini akhirnya tertidur selama 309 tahun. (al-Kahfi [18]:25)

300 tahun berlalu dengan pemimpin yang silih berganti dan semuanya ialah orang yang amat kejam. Hingga akhirnya Allah swt menunjukkan jalan. Negeri Syam kini dipimpin oleh seorang pengikut Nabi Isa as yang memerintahkan rakyatnya agar menyembah Allah swt dan menghancurkan berhala. Ia juga berlaku adil dan sangat bijaksan. Negeri Syam kini menjadi negeri yang makmur dan rakyatnya terhindar dari kemiskinan.

Suatu hari, sekelompok penganut ajaran sesat mempengaruhi orang-orang agar tidak percaya dengan adanya kehidupan setelah mati. Dan menentang apa yang dikatakan oleh ajaran Nabi Isa as.

Mendengar berita tentang sekelompok penyebar ajaran sesat ini. Gebernur Syam segera memanggil mereka ke istana.  Gebernur menasiihati mereka agar segera bertaubat dengan apa yang telah mereka katakana. Namun, usahanya sia sia. Mereka tetap tidak merubah pendiriannya. Mereka kemudian dipenjara. Dan dalam penjara Gubernur sering mengunjungi mereka dan melakukan debat terbuka. Gubernur berusaha memberikan contoh kehidupan kepada mereka agar mereka menyadari perbuatannya, namun tetap saja mereka tidak bergeming.

Sang Gubernur kemudian mendirikan shalat dan berdoa kepada Allah swt agar diberi petunjuk. Malam harinya ia bermimpi melihat matahari terbit dari balik gunung ar-Raqim. Setelah itu aku melihat  pemuda yang teguh menyembah Allah. Salah seorang diantara mereka berkata “Sebarkan berita gembira, Allah swt telah mendengarkan doamu”

Sementara itu dalam gua. Bersamaan dengan terbitnya matahari, anjing milik Masaklaminaya terbangun dari tidur panjangnya. Ia heran melihat tubuhnya ditumbui bulu yang amat lebat dan tampak meyeramkan. Anjing itu kemudian menemui tuannya yang masih tertidur dan membangunkannya dengan gonggongan. Singkat cerita mereka semua terbangun dan kaget melihat keadaan mereka yang berubah drastis. Kukuh mereka tak pernah di potong dan sangat panjang. Mereka heran melihat mereka tidur dengan rambut yang masih pendek, dan ketika mereka terbangun, rambut mereka melebihi tinggi mereka.


Salah seorang di antara mereka bertanya “Berapa hari kita tertidur” yang lain menjawab “mungkin sehari atau setengah hari”   “Hanya Allahlah yang mengetahui berapa lama kita tertidur”

Bangun dari tidur panjang mereka dihimpit rasa lapar. Singkat cerita Masaklaminaya beserta anjingnya keluar untuk membeli makanan. Sesampainya di pasar orang-orang heran melihatnya ia tampak bagai monster dan tidak mirip sama sekali dengan manusia. Ia memberikan uang dari 309 tahun lalu yang saat ini tidak digunakan lagi. Peristiwa ini mengundang keributan hingga akhirnya prajurit membawa Masaklaminaya ke istana.

“Celakalah aku, aku tertangkap” Gumam Masaklaminaya dalam hati. Ia belum sadar dengan apa yang sebenarnya terjadi bahwa mereka telah tertidur selama 309 tahun. Ia mencoba memberontak dari jerat prajurit.. “Teman-teman tolog aku.. siapa pun tolong aku.. Ya Allah tolonglah aku..”

Sesampainya di istana ketakutan Masaklaminaya berangsur-angsur meredah, Ia tidak lagi melihat berhala terpajang di pintu masuk istana.. dalam hatinya dipenuhi rasa penasaran dan bukan lagi ketakutan.

Singkat cerita Gubernur mendengarkan perkataan Masaklaminaya… salah seorang menteri maju dan berkata “Kaukah salah seorang dari tujuh pemudah yang melarikan diri dari Daaqianus?”

“Ya, Jadi tuan Tahu. Apakah tuan juga berada pada waktu itu?”

“Tentu saja tidak. Peritiwa itu sudah berlangsung 300 tahun yang lalu, dan kisah hilangnya kalian terus dibicarakan oleh orang-orang”

Masaklaminaya tersungkur mendengar penjelasan itu.. Maha Suci Allah yang telah menunjukkan kuasanya.

Mengetahui kebenaran ini Gubernur segera memanggil tawanan kelompok yang telah menyebarkan ajaran sesat dan menceritakan kisah Masaklaminaya yang telah ditidurkan selama 309 tahun lamanya.

“Dimanakan keenam temanmu yang lainnya?” Tanya Gubernur

“Mereka menungguku di dalam gua untuk membawakan makanan untuk mereka ”

“Bawalah aku ke sana!”

Mereka pun segera menuju gua tempat mereka tertidur, gubernur mengikut sertakan para tahanan sesat itu untuk membuktikan kebenaran kisah Masaklaminaya.

Sesampainya di gua Masaklaminaya berkata kepada Gubernur. “Tuan jika teman-temanku mendengar deruh langkah prajurit Tuan, mungkin saja mereka bisa mati ketakutan. Untuk itu biarkanlah hambah masuk terlebih dahulu”

“Baiklah, aku mengerti.. lakukanlah apa yang hendak kau lakukan”

Masaklaminaya kemudian menemui teman-temannya dengan tidak membawa apa-apa.

“Ada apa Masaklaminaya, kenapa kau tidak membawa makanan?”

“Tenanglah saudaraku, akan kuceritakan apa yang sebenarnya terjadi”

Mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.. mereka sadar telah hidup pada zaman yang amat jauh dengan kehidupan mereka. Ketujuh pemuda itu kemudian berdoa kepada Allah agar nyawa mereka di cabut. Hingga Allah swt mengabulkan doanya dan mengangkat mereka menghadap sang Ilahi dengan penuh kerinduan

Sementera itu pasukan yang resah telah lama menunggu masuk ke gua dan mendapati ke tujuh pemuda itu.. para penyebar ajaran sesat itu pun tak kuasa menahan deruh air mata yang mengalir dan menyadari kekuasaan Allah swt dan bersujud di hadapan ke tujuh pemuda tadi.. Maha Suci Allah dengan segalah Kuasa-Nya

Semoga  bermanfaat ...

3 komentar:

  1. Posyingan yang bagus ..makasih infonya...sangat terharu..
    maha suci Allah...

    BalasHapus
  2. Terimah kasih ceritanya, jadi terharu nih ;)

    BalasHapus
  3. beda2 dikit nama2 7 pemuda trsebt tp akhir ceritanya sama

    BalasHapus