Searching...

16 Maret 2013

Nabi Musa as: Kisah Sapi Betina (al-Baqarah) [4]

Kisah sebelumnya di sini Nabi Musa as: Kisah Sapi Betina (al-Baqarah) [1] [2] [3]

Beberapa hari setelah Syam`un mati. Bani Israil masih penasaran dengan pembunuhnya. Mereka berpikir bahwa Allah akan menunjukkan sapi betina yang dimaksud oleh Nabi Musa. Mereka sudah dibutahkan oleh setan. Sapi yang dikatakan Nabi Musa bertebaran banyak di kota, namun mereka sibuk memikirkan detail sapi itu sebenarnya. Sementara itu, Uhaihah merasa di ambang kemenangan, ia pun segera membujuk Jamilah agar segera melangsungkan pernikahan dengannya.

Kematian ayah Jamilah baru beberapa hari, dan  Uhaihah segera mendesak Jamilah agar segera menikah dengannya.

“Ayah baru wafat beberapa hari, bagaimana mungkin aku menikah dalam waktu dekat ini. Aku harus melihat pelakunya di-qishash dulu. Apa engkau lupa bahwa dia pamanmu?”

“Apa engkau kesal padaku?” Tanya Uhaihah

“Ya, engkau berkata kepada orang-orang bahwa engkau memaafkan pelakunya. Aku tidak habis pikir, padahal beberapa hari sebelumnya engkau mengaku menyayanginya dengan tulus. Dengan berkata seperti itu, artinya engkau hendak menjauhiku. Apalagi engkau selalu menanyakan harta warisan. Apakah yang kau inginkan dari ayah hanyalah hartanya? Aku takut prasangkanya terhadapmu benar.”

“Aku bersumpah,…”

“Tidak usah bersumpah. Buktikan saja dengan kerja keras, baik bertani atau mulai berdagang dengan modal kecil. Aku bersedia meminjamkan uang untukmu. Lakukan apa saja yang bisa membuatku yakin bahwa engkau pantas menikahiku. Ini maharku yang tidak bisa ditawar lagi”

Uhaihah pulang dengan sejuta gejolak di dadanya. Perkataan Jamilah sudah membuatnya kesal bukan kepalang. Uhaihah tidak mungkin bisa membuang sifat malasnya yang sudah mendara daging. Ia khawati impiannya kandas mengingat Jamilah bersikukuh mempertahankan hartanya. Masih dibayangi orang-orang yang terus mencari pembunuh Syam`un dan penolakan Jamilah, ia kembali merencanakan tindakan busuknya.

Bani Israil kembali menemui Nabi Musa, mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami apa warna (sapi)nya” (al-Baqarah[2]:69)

“Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang untuk memandangnya”

Yang lain berkata, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan bagaimana hakikat sapi betina itu, karena bagi kami sapi betina itu masih samar dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk” (al-Baqarah[2]:70)

Nabi Musa masuk ke biliknya dan memohon kepada Allah, sesaat kemudian ia keluar dengan wajah memerah pertanda marah. Nabi Musa kemudian menatap mereka satu per satu dan berkata, “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu ialah sapi yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak punya cacat dan tidak ada belangnya”

Mendengar penjelasan Nabi Musa, Bani Israil makin terjepit. Salah seorang di antara mereka berkata, “Di mana kami bisa mendapatkan sapi betina seperti itu? Musa, sapi yang kau katakana itu hanya ada di surge, bukan di muka bumi. Penghinaanmu terhadap kami benar-benar kelewat batas”

“Kalian hendak mempersulit diri, maka Allah pun mempersulit kalian. Jangan melukai perasaan Nabiyulllah dengan kata-kata bodoh dan tuduhan dungumu itu!” sergah seorang pria yang tiba-tiba menyeruak memecah kerumunan Bani Israil.

Mereka pun kemudian membubarkan diri dengan penuh keputus asaan. Tiba-tiba seorang pria berteriak di antara mereka. “Ya…, aku ingat. Aku tahu sapi itu ada di mana?” teriakan itu sontak membuat orang-orang menghentikan langkahnya.

“Apa kalian masih ingat Sa`dun, ayah `Abdullah yang meninggal beberapa tahun silam? Dia memiliki sapi seperti yang disebutkan oleh Nabi Musa. Mari kita ke sana”

Mereka kemudian berangkat menemui `Abdullah. Sadar banyak orang yang mendatangi rumahnya, `Abdullah menggandeng tangan ibunya menghampiri Bani Israil.

“Tidak usah takut, kami datang membawa kabar baik” kata salah seorang di antara mereka

“Kabar baik apa yang kalian bawa?” Tanya `Abdullah

“Allah telah memilih sapimu untuk disembelih” jawab Hakim

“Mengapa Allah memilih sapi kami…, sapi itu ialah sumber rezeki dan pilar hidup kami” Tanya Ibu `Abdullah heran.

“Ketahuilah, Saudariku…, untuk menangkap pembunuh Syam`un, Nabi Musa memerintahkan kami memukul jenazah itu dengan bagian tubuh sapi yang akan kami sembelih ini. `Abdullah maukah kau menjual sapimu?” Tanya Hakim

“Aku tidak mau menjualnya, sapi itu ialah sumber kehidupan bagiku dan bagi ibuku yang sudah tua ini” bantah, `Abdullah

“Anakku, kami akan menawar berapa pun harga yang kamu tetapkan”

Ibu `Abdullah mundur ke serambi rumah kemudian duduk rasa heran masih menyelimuti wajahnya, “Apakah Nabi Musa menyebutkan cirri-ciri sapi yang harus disembelih itu?”

“Benar sekali,” jawab hakim, ia kemudian menoleh ke `Abdullah “Bolehkan kami melihat sapimu?”

“Boleh, mari ikut aku ke kandang”

Mereka kemudian ke balakang rumah dan menyaksikan sapi itu, “`Abdullah sapi ini ialah sapi yang sesuai dengan apa yang dicirikan oleh Nabi Musa” kata hakim

“`Abdullah…, kami ganti sapimu ini dengan emas yang setara beratnya”

Mendengar kata-kata ini, Uhaihah yang sejak tadi menyimak kini bergetar hebat. Ia tidak menyangkah masalah sapi betina untuk mengungkap pembunuh Syam`un akan diteruskan. Ia berteriak keras, “Tuan-tuan sekalian, apa yang kalian lakukan? Apa kalian sudah gila? Kalian mau menukar sapi itu dengan emas yang setara beratnya? Sadarlah, pamanku tidak akan hidup sekalipun kalian membeli sapi ini! Pembunuh itu pasti tidak mau mengaku kalau dia melihat transaksi sinting ini”

“Diam kau Uhaihah!” sergah hakim “Kami akan tetap membelih sapi ini berapa pun harganya. Kami punya persediaan emas yang melimpah dan kami tahu itu sangat berharga. Namun, kehadiran Nabi Musa di tengah-tengah kita jauh lebih berharga. Kita harus mendengar dan mematuhi perintahnya.” Ia lalu menoleh kepada `Abdullah

“Anakku…, kami beli piaraanmu ini”

Bani Israil membeli sapi betina itu dengan emas yang sama beratnya. Kini `Abdullah, anak yang saleh dan pekerja keras itu kini jadi orang yang kaya raya. Allah swt member rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya tanpa perhitungan.

Ketika Bani Israil disibukkan dengan transaksi itu, Uhaihah segera meninggalkan mereka dan pergi ke took pamannya. Berbekal kunci yang ada di tangannya ia leluasa membuka laci dalam took. Di luar dugaan seluaruh laci itu kosong.

“Celaka…, kemana semua uang dan perhiasan itu?” gumamnya lirih

Orang-orang Bani Israil kemudian menyembelih sapi betina itu, lalu membawa kulitnya pada Nabi Musa. Kami sudah menyembeli sapi betian yang engkau maksudkan. Kulitnya juga kami bawa. Sekarang apa lagi?” Tanya seseorang di antara mereka

Nabi Musa menjawab, “Pukulkan mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu!” (al-Baqarah[2]:73)
Beberapa orang menggotong mayat Syam`un dan membawanya ke hadapan Nabi Musa. Uhaihah berdiri dengan tubuh menggigil ketakutan. Sesaat kemudian kulis sapi itu dipukulkan perlahan ke tubuh Syam`un. Sungguh ajaib, Syam`un duduk dan membukan matanya. Orang-orang yang berkerumun mundur ketakutan

“Siapa yang membunuhmu” Tanya hakim meredahkan suasana

Saudagar kaya itu mengitari pandanganya menatap semua hadirin satu per satu. Setelah melihat Uhaihah dia berkata, “Aku dibunuh keponakanku, Uhaihah” selesai mengatakan hal tersebut Syam`un kembali terbujur kaku seperti semula.

Uhaihah tidak bisa mengelak dan tidak bisa lari, sontak semua orang memandanginya memukul dan menendang dengan beringas, hingga akhirnya ia tewas dengan mengenaskan. Inilah balasan dari setiap perbuatannya.

Sesungguhnya segala perbuatan pasti akan dimintai pertanggungjawaban

Semoga bermanfaat…

0 komentar:

Poskan Komentar