Searching...

18 April 2013

Hukum Memindahkan Mayat atau Jenazah

Di dalam Sahih Bukhari Bab “Apakah jenazah boleh dikeluarkan dari kubur atau liang lahad karena suatu sebab?” terdapat tiga buah hadis yang bersumber dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari r.a

Hukum Memindahkan Mayat


Pada hadis pertama Jabir r.a berkata,

“Rasulullah mendatangi jenazah Abdullah bin Ubay, setelah jenazah itu dimasukkan ke dalam kubur. Beliau meminta supaya jasadnya dikeluarkan, dan kemudian meletakkan jasad itu di atas pangkuannya dan menempelkan liur beliau dan memakaikan pakaian beliau kepadanya”

Dalam hadis kedua Jabir r.a. berkata, “Pada malam menjelang perang Uhud ayahku memanggilku dan berkata, ‘Tampaknya aku akan menjadi sahabat Rasulullah yang pertama gugur. Tidak ada orang yang kukhawatirkan sepeninggalku selain engkau setelah Rasulullah saw. Jika kau meninggalkan hutang, maka lunasilah (hutangku itu) dan berlakulah dengan baik kepada saudara-saudarimu”

memindahkan mayat atau jenazah
Pagi pun menjelang dan benar ayahku adalah muslim pertama yang gugur. Beliau dikuburkan bersama orang lain dalam satu lubang. Akan tetapi aku kemudian merasa tidak nyaman jika kubiarkan ayahku dikubur bersama orang lain, maka aku keluarkan jenazah beliau enam bulan kemudian. Ternyata keadaannya sama seperti ketika beliau dikuburkan kecuali ada sedikit luka di telinganya.

Dalam hadis ketiga, Jabir r.a. berkata, “Ayahku dikubur bersama mayat seorang laki-laki, sehingga aku merasa tidak nyaman dan kuputuskan untuk mengeluarkan jasadnya untuk kukuburkan tersendiri”

Dalam penjelasan hadis tersebut disebutkan bahwa diperbolehkan mengeluarkan jenazah dari kuburnya disebabkan satu dan lain hal, baik menyangkut dari si mayit baik menyangkut orang yang masih hidup. Rasulullah saw pernah memerintahkan untuk mengeluarkan Abdullah bin Ubay karena ada sesuatu hal yang menyangkut si mayit, yaitu barakah dari Rasulullah saw dengan menempelkan liur dan memakaikan pakain beliau

Sedangkan, Jabir r.a. pernah mengeluarkan jasad ayahnya dan memindahkannya ke makam yang baru disebabkan dirinya merasa tidak nyaman meninggalkan ayahnya dikubur bersama orang lain.

Maka mengeluarkan jenazah dan memindahkannya dari satu tempat ke tempat lain adalah hal yang diperbolehkan oleh syariat dengan tetap menjaga kemuliaan jenazah tersebut dan kemuliaan keluarganya yang masih hidup.

Akan tetapi, perlu diketahui bahwa dalam memindahkan mayat hendaknya ada alasan-alasan rasional. Misalnya karena kuburan yang lama sudah rusak, atau karena yang bersangkutan tidak berhak menempati makam yang sekarang.

Jika tidak ada alasan yang jelas kecuali karena dorongan emosional, maka sebaiknya jangan memindahkan jenazah yang bersangkutan. Apalagi jika jenazah telah dikuburkan dalam waktu yang cukup lama.

Alangkah baiknya jika orang yang ditinggalkan bersedekah untuk si mayit dan melanjutkan hubungan dengan orang-orang yang dekat dengan si mayit. Hal itu tentu lebih baik dan lebih bermanfaat.

0 komentar:

Poskan Komentar