Header Ads

Pengasuhan Anak Yatim Perempuan

Kalau ada anak perempaun yang diasuh seseorang maka ia harus diasuh hingga siap menikah. Walinya harus memersiapkan pernikahannya agar anak asuhnya itu bisa menjaga kehormatan dan kesucian dirinya. Ia tidak boleh menghalangi atau pun mempersulit pernikahannya hanya agar anak asuhnya bisa melayaninya atau menguasai harta anak yatim itu atau jika ia memang mewarisii harta. Perbuatan seperti ini merupakan dosa besar.

Seorang pengasuh tidak boleh menikahi anak asuhnya meskipun halal atau menikahkannya dengan anak kandungnya jika ia tidak menyerahkan maskawin, atau tidak mau menerima konsekuensi pernikahan, atau tidak melalui restu dan rida anak asuhnya itu. Allah swt berfirman,

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil [265] , Maka (kawinilah) seorang saja [266] , atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Pengasuhan Anak Yatim Perempuan


Pengasuhan Anak Yatim Perempuan
Dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan sebuah riwayat dari Sayyidah Aisyah yang menuturkan, “Ada seorang pria yang mengasuh seorang anak perempuan yang yatim. Ia lalu menikahi anak asuhnya itu. Wanita yatim itu memiliki kebun kurma. Pria yang menikahinya itu menahan kebun kurma itu dan tak ada sedikit pun nafkah yang ia beri untuk istrinya. Lalu turunlah ayat tersebut”

`Urwah Ibn Az-Zubair pernah bertanya kepada bibinya, Aisyah, tentang ayat itu, Aisyah pun menjawab, “Wahai keponakanku, wanita yatim itu ada dalam asuhan walinya. Wali yang mengasuhnya itu tertarik dengan kecantikan dan hartanya. Ia pun ingin mengurangi jumlah maskwinnya. Ia pun dilarang menikahinya kecuali membayar maskawinnya dengan sempurna”

Setelah ayat tersebu turun, para sahabat kemudian minta penjelasan lebih jauh lagi kepada Rasulullah. Allah pun menurunkan firmannya,

“Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang Para wanita. Katakanlah: "Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Quran [354] (juga memfatwakan) tentang Para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa [355] yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka [356] dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahuinya.”

Pada zaman Jahiliyah, jika seseorang laki-laki mengasuh wanita yatim, ia akan melemparkan pakainnya kea rah wanita itu. Kalau sudah begitu, maka tak ada seorang pun yang bisa menikahinya untuk selamanya. Jika wanita yatim itu cantik, lelaki itu akan menikahinya dan memakan hartanya. Jika wanita yatim itu jelek, lelaki itu akan mengurungnya hingga mati dan mewarisi hartanya. Allah pun melarang dan mengharamkan tindakan tersebut dengan menurunkan seorang Rasul ke muka bumi

Semoga bermanfaat...

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.